Type Here to Get Search Results !

Pengujung Online

Pesona Dokter Dingin



"Dit, Kanaya menikah dengan sepupu lo juga itu hasil dari keputusan lo sendiri, lo yang lepasin dia demi kesembuhan Reifan.. come on bruh.. move on soon."

PART 3

Umi Zya Lunara selalu meminta bantuan Wildan untuk memperkenalkan perempuan pada Raditya. Meskipun sudah beberapa orang yang diajukan tapi belum ada satupun yang bisa memikat hati dokter yang terkenal dingin itu.

"Justru itu karena Kanaya nggak ada cacat attitude makanya sulit untuk ngelepasin perasaan gue, Dan."

"Jadi penasaran gue sama yang namanya Kanaya, seperti apa sih orangnya sampai bisa bikin hati lo freeze gitu?"

"Kanaya itu perempuan yang sederhana tapi sempurna di mata gue," ujar Raditya. 

"Nyindir Ade gue nih?" bibir Wildan mencebik. 

"Nggak juga, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan," jawab santai Raditya. 

"Tapi Kanaya udah jadi istri Reifan, Bruh," imbuh Wildan. 

"Mau sampai kapan? Gak kasihan lo sama Umi yang pengen banget lihat anaknya nikah?" lanjut Wildan. 

"Dan, gue gak pernah ganggu rumah tangga mereka, gue juga udah berusaha keras untuk melupakan Kanaya dengan pendekatan sama Aluna dan teman-teman lo yang lain, tapi gak ada satupun yang mau bersabar dengan sikap gue, bahkan udah lima kali bumi berevolusi gue nggak ikut pertemuan keluarga besar karena ingin menghindari bertemu dengan Kanaya, tapi apa? perasaan ini belum juga hilang."

Wildan menghembuskan nafas panjang dari mulutnya. 

"Gimana mau hilang kalau lo gak mau mencoba ta'aruf lagi? namanya juga usaha Bruh jangan menyerah."

"Capek, gimana mau mencoba ta'aruf sama yang lain? kalau ujung-ujungnya cuma kecewa yang gue dapat."

"Terserah sampeyan sak karepmu dokter Raditya, lebih baik gue ngurus bocah takut disuntik daripada Om-om yang takut menjalin hubungan dengan perempuan."

Raditya tertawa ringan mendengar ocehan random Wildan. 

Saat di lampu merah mobil Raditya berhenti di belakang sebuah motor belalang tempur.
Raditya melihat plat nomor pada motor itu
Loh bukannya itu motor cowok tadi ya? (batin Raditya)

"Kenapa perempuan yang dibonceng bajunya sama dengan Arumi? atau jangan-jangan memang Arumi?"

Raditya menekan klakson mobil beberapa kali. 

Tin Tin Tin

Walaupun mengganggu pendengaran pengendara lain cara Raditya berhasil membuat kedua orang yang berada di atas dua roda tersebut menoleh ke belakang. Sebenarnya bukan hanya dua orang itu tapi semua orang yang ada di lampu merah menatap mobil Raditya. Meskipun Arumi dan Azzam memakai helm full face tetapi Raditya mengenali dari pakaian dan nomor plat motor.

"Dit, lo ngapain sih pake klakson udah tau lampu merah?"

Mata Raditya fokus ke depan. 

"Lo masih inget gadis yang tadi pegang-pegang tangan gue di restoran? nah itu orangnya," tunjuk Raditya menggunakan mata. 

Wildan menatap dua orang di depan mereka. 

"Oh iya benar bajunya sama, terus kenapa?"
"Seperti yang gue bilang tadi, cowoknya itu psikopat dan dia minta tolong sama gue biar gak diganggu lagi, tapi kenapa sekarang dia bisa bersama cowok itu lagi?"

Wildan tertawa 

"Ngapain lo pake tertawa segala?"

"Apes benar lo, Dit, calon istri gak dapat eh dikadalin pula sama dua bocah itu ha ha ha."

"Maksud lo?"

"Itu artinya tadi mereka sedang bersandiwara di depan lo, lihat tuh mereka begitu akrab dasar cowok gak peka."

"Terus apa tujuannya mereka bersandiwara?"

"Yo nda tau saya, kalau penasaran turun ajah datangin orang dua itu," saran Wildan. 

"Kurang kerjaan."

Wildan menoleh ke arah samping kaca dan bergumam menyindir Raditya. 

"Selama ini juga lo kurang kerjaan masih mencintai istri orang." 

Raditya hanya melirik ke arah Satria tanpa ingin berkomentar. 

Flashback On

Azzam adalah salah satu siswa sekolah menengah atas di Kota Bekasi. Dia bercerita pada saudara perempuan satu-satunya Arumi bahwa dia mendapat tugas dari sekolah mata pelajaran seni budaya untuk membuat sebuah video cuplikan drama. 

"Ayolah mba bantuin aku," rengek Azzam pada Arumi sang kakak. 

"Emangnya nggak ada tema lain apa, Zam? Aneh banget tugas anak sekolah kok kayak gitu, mba jadi curiga sama kamu," tanya Arumi sembari melipat pakaian. 

Azzam duduk di samping Arumi dan ikut membantu melipat pakaian.

"Kalau mba gak percaya telpon ajah guru aku, aku pilih tema itu biar epic ajah mba, nanti kita cari laki-laki dewasa yang kelihatannya super cool biar nggak ambil kesempatan untuk dekati mba Arumi."

"Kamu gak lagi isengin mba kan, Zam?" Delik mata Arumi menatap sang adik.

"Sungguh mba ini tugas sekolah," Azzam berusaha meyakinkan.

"Tapi mba nggak mau ya kalau ada adegan pegang-pegang tangan segala."

Azzam menghela nafas. 

"Tenang, nanti mba Arumi pakai sarung tangan biar nggak ada skin touch, gimana mba?" Azzam memainkan kedua alisnya. 

"Lah terus siapa nanti yang pegang kameranya?"
"Gampang itu mah mba aku udah siapkan dua kacamata hitam yang ada kameranya, nanti aku tinggal edit-edit ajah."

"Niat banget kamu Zam."

"Iyalah mba, cita-citaku kan pengen jadi sutradara terhebat di Indonesia haha."

"Sebulan yang lalu pengen jadi designer interior kok tiba-tiba berubah pengen jadi sutradara."

Azzam hanya cengengesan.

"Kasih waktu mba deh untuk mikir."

"Jangan lama-lama loh mba mikirnya, deadlineku tinggal dua hari lagi."

"Iya bawel."

Azzam tersenyum merekah. 

Di Restoran 

"Zam, udah dapat belum mangsanya? inget nanti siang mba harus ke rumah sakit loh."

"Sabar belum dapat yang pas, rata-rata face nya full senyum semua mba, belum ada yang bermuka kulkas hee."

Raditya turun dari mobil dengan muka datar, dia tipe laki-laki yang sulit untuk mengeluarkan senyum kecuali pada orang-orang tertentu yang cukup akrab dengannya.

Cocok ini kayaknya (seloroh Azzam dalam hati).
"Mba Arumi siap ya, sepertinya laki-laki itu pas untuk kita jadikan objek," mata Azzam mengarah pada Raditya. 

"Yang mana, Zam?" tanya Arumi penasaran. 

"Itu yang pakai kemeja navy."

Arumi fokus mempertajam penglihatannya. 

"Ganteng sih, tapi itu kelewat dingin Zam, yang ada nanti kalau dia murka mba bisa dipermalukan di depan orang," suara Arumi khawatir.

"Nanti aku yang tanggung jawab, kalau dia marah-marah sama Mba Arumi. Oke ya mba satu dua tiga action."

Meski ragu dengan tugas Azzam tetapi demi nilai sang adik Arumi rela melakukan aksi memalukan yang sudah dibuat skenario nya oleh Azzam.

**
Setelah Raditya masuk ke dalam restoran, Azzam berbalik arah menjemput Arumi dengan motor belalang tempurnya.

"Gimana mba aman?"

"Alhamdulillah aman ini yang pertama dan terakhir ya Zam," mata Arumi melotot. 

"Iya mba, Syukurlah aku udah deg-deg takut mba Arumi langsung diajak nikah sama Mas Paijo hahaha."

"Masih mending kalau diajak nikah, kalau tadi mba mu ini dicaci maki gimana?" Arumi menepuk bahu Azzam. 

"Loh, emang mba Arumi mau nikah? hee."
Wajah Arumi menjadi kikuk. 

"Zam, sebelum ke rumah sakit nanti mampir dulu ya ke supermarket ada yang mba mau beli," ucap Arumi mengalihkan pembicaraan. 

"Oke siap Kakakku yang paling cantik se-gang sempit he he."

"Dasar bocah mendang mending," Arumi menoyor helm Azzam.

Flashback Off 

Rumah Sakit Shori Bekasi 

Hari ini adalah hari pertama Arumi magang di Rumah Sakit Shori Bekasi. Arumi diperintahkan untuk menemui konsulennya yaitu dokter Raditya salah satu dokter bedah syaraf yang super dingin, jarang bicara dan sangat disiplin menurut cerita para seniornya.

"Selamat berjuang ya, Rum," ucap Naura merangkul Arumi. 

"Kamu sih enak, Nau, dapat dokter Renata ramah orangnya," balas Arumi dengan wajah ditekuk.

"Nanti juga kita akan tukeran posisi Rum saat kamu di stase anak."

"Yang bikin aneh tuh kalian semua bergrup di stase yang sama. Kenapa cuma aku sendiri di stase bedah tanpa teman?"

"Mungkin karena kamu mahasiswi terbaik kali Rum, makanya spesial sendirian he he. Eh, kata para senior dokter Raditya tuh walau galak tapi maniz legit loh Rum, aku jadi penasaran sama tampang offlinenya kayak gimana? ha ha ha," goda Naura. 

"Itu dokter atau martabak Nau?"

"Martabak spesial untuk Arumi Kamila Mahreen calon dokter bedah ha ha ha." 

Arumi mencubit pinggang Naura. Lalu Naura melepas tangannya dari bahu Arumi.

"Rum, ingat kalau digigit dokter Raditya teriak ajah ya. Dahh.. Arum," ucap Naura melambaikan tangan. 

Mereka terpisah ke arah ruangan yang berbeda. 
Dengan hati yang tidak tenang dan jantung berdebar, Arumi menapaki lorong panjang dan banyak ruangan satu per satu membaca nama yang tertera pada daun pintu hingga dia menemukan ruangan dokter Raditya.

Mengapa baru dengar cerita tentang sosoknya saja aku sudah dag dig dug, apa iya dia seseram itu.

Dengan rasa ragu Arumi mencoba mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak kunjung ada jawaban.

Apa dokter Raditya sedang tidak ada diruangan ya (gumam Arumi).

Tiba-tiba pria berkemeja navy sudah berada di belakang Arumi.

"Hmm, cari siapa?" tanya pria itu dengan suara bariton.

Arumi balik badan lalu menjawab. 
"Saya mau.." suara Arumi menggantung karena kaget.

Mas Paijo? Kenapa dia ada di sini juga? Ya Allah jangan-jangan dia tau kalau tadi aku cuma....

Kini mereka berdiri saling berhadapan. Tenggorokan Arumi tercekat dengan perasaan takut karena merasa bersalah sedangkan Raditya dengan perasaan kesalnya merasa waktunya terbuang sia-sia karena sandiwara Arumi bersama adiknya.

Raditya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap tajam pada Arumi.

"Mau apa?" 

Tenang Arumi, ini ujian kamu sebelum bertemu dengan dokter Raditya yang katanya super dingin. 

Arumi mencoba mengatur nafasnya.

"Maaf, Mas Paijo.. urusan kita sudah selesai. Tadi saya juga sudah minta maaf, kan saat di restoran? jadi tolong jangan ganggu saya lagi," jawab Arumi mengira pria berkemeja navy mengejar dia hingga ke rumah sakit. 

Arumi kembali mengetuk pintu.

"Yang pengganggu itu saya atau kamu?" tanya Raditya pelan namun dalam. 

NYESSSS

Arumi menghembuskan nafas.

"Mas, sekali lagi saya minta maaf atas kejadian di restoran tadi, please jangan ikutin saya terus," sahut Arumi merendah. 

"Bagaimana hubungan kamu dengan... siapa namanya? Mmm.. Zam dinding!"

DEG

Jam dinding???

"Azzam, Mas."

"Iya itulah pokoknya."

Raditya memperhatikan punggung tangan Arumi, sudah tidak ada tulisan help di sana. 

"Kami sudah putus," ucap Arumi singkat yang ingin menghindar. 

Wildan benar mereka memang sedang bersandiwara, dengan jelas tadi aku melihat dia memegang pinggang cowoknya di lampu merah.

"Ada urusan apa kamu dengan dokter Raditya?" tanya Raditya lagi masih dengan wajah datar. 
Kepo amat sih nih orang. Jangan katakan kamu sedang magang di sini Arumi.. nanti dia akan mencari kamu terus (suara Arumi dalam hati).
Melihat tatapan yang tajam, Arumi tidak ingin berurusan lagi dengan pria yang dia jadikan objek tugas sang adik. Dia berpikir pria itu bisa saja meminta imbalan atau sejenisnya sedangkan Arumi merasa tidak merugikan pria tersebut sedikit pun sehingga minta maaf saja sudah cukup dan itu sudah dia lakukan tadi saat di restoran.

Ini gara-gara tugas si Azzam.
"Mas, urusan kita sudah selesai ya, tolong jangan ganggu saya lagi please..." timpal Arumi mulai geram. 

"Oke baiklah." Raditya melangkah dan membuka pintu ruangannya. 

Di depan pintu yang sudah tertutup kembali Arumi tercengang menyaksikan pria hitam manis berkemeja navy itu masuk dengan santai ke dalam ruangan dengan tulisan Dr. dr. Raditya NW, Sp.BS.

Jangan-jangan.. dia temannya dokter Raditya, waduh gawat kalau dia sampai menceritakan kejadian tadi pada konsulen aku (kata Arumi monolog dengan panik).

Ketika Arumi hendak mengetuk pintu kembali, ada seorang perawat melihat keberadaan Arumi. 

"Loh, dokter Arumi, kenapa masih di luar? bukannya dokter Raditya sudah ada di dalam?" ujar perawat membuat Arumi semakin tegang. 
"Dokter Raditya sudah ada di dalam, Sus?" tanya Arumi untuk lebih meyakinkan.

"Iya, beliau baru saja datang, saya juga mau menemuinya mau memberikan data beberapa pasien."

Arumi diam terpaku
Perawat mengetuk pintu. 

"Masuk."

Itu kan suara....
Perawat membuka pintu dan mengajak Arumi masuk ke dalam ruangan. 

"Permisi, dok."

"Iya," jawab Raditya yang masih asyik membaca email. 

Arumi masih berada di ujung pintu dengan perasaan gugup yang luar biasa, baru menyadari bahwa pria berkemeja navy yang dia kerjai adalah dokter Raditya konsulennya.

"Ini ada beberapa berkas pasien yang dokter minta," ucap perawat yang sepertinya juga ikut tegang. 

"Silakan taruh saja." 

"Baik, Dok."

Arumi serasa menyaksikan film horor dimana dokter Raditya hanya bersuara singkat, datar tanpa menatap perawat yang sedang bicara padanya.

Ruangan ini terasa angker, Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk menghadapi dokter satu ini (doa Arumi dalam hati).

"Maaf, Dok, ini ada dokter koas yang ingin menemui anda namanya dokter Arumi."

Perlahan Raditya menegakkan kepalanya lalu netranya lurus menatap Arumi. Debaran jantung Arumi semakin kencang dia seperti memikirkan firasat buruk yang akan terjadi pada hari ini karena kecerobohannya sendiri.

"Silakan, kamu sudah bisa keluar," titah Raditya pada perawat. 

"Baik, dok permisi."

Perawat itu pun keluar dari ruangan dengan memberikan senyuman dan anggukan kepala pada Arumi terlebih dahulu. 

Kini tinggalah Arumi berdiri mematung di dekat. 

Mau lanjut? Jangan lupa kasih like dan komentar yang banyak ya. 

Judul: Pesona Dokter Dingin
Penulis: Icha VB
KBM APP
#viral #dramaindo #novel #kbm


 

Top Post Ad

Below Post Ad

Top Post Ad